Berdamai dengan perbedaan

Entah berapa kali saya menulis post dengan tema yang sama walau dengan judul post yang berbeda. Rasanya tiba-tiba ada saja hal yang diulang terus mengenai hal ini. Seperti pesan-pesan yang dikirimkan tapi tak pernah ada balasnya. Begitulah rasa penasaran ingin terus mengulang kembali cerita ini untuk melengkapi cerita lama.

Saya kira setiap saya berada dalam perahu yang sama dengan seseorang/sekelompok orang maka tujuan kita pun sama. Ternyata saya salah sangka. Harapan hanyalah tinggal kenangan. Berharap dengan mudah bisa menemukan yang setujuan itu sia-sia belaka. Ya kata orang-orang, bersama itu lebih baik daripada sendiri. Saya coba turuti pepatah ini. Namun yang saya hadapi di akhir adalah berkutat dengan rasa takut. Rasa takut ditinggal sendirian. Asing. Kembali.

Tanpa disadari, manusia cenderung mewarisi sifat dari generasi sebelumnya. Entah itu berapa persen akan melekat menjadi karakternya. Manusia juga sedikit banyak mendapat hal dari sejarah generasinya yang telah lampau. Entah berapa persen pula hal ini akan berkontribusi dalam jalan hidupnya. Belum lagi hal-hal lainnya. Tak mungkin bisa samakan ceritanya?

Tak mudah menerima perbedaan. Itu yang sejauh ini saya rasakan. Walaupun sudah berusaha keras untuk menerima, tapi masih saja ada perasaan gelap. Begitu pula dengan perubahan. Perubahan masih dari bagian perbedaan. Berubah atau menjadi berbeda dari biasanya. Asing.

Ada banyak cara pengekspresian orang untuk menanggapi perbedaan ini. Bermacam bentuknya. Ada pengekspresian yang terlihat seperti santai biasa saja, marah-marah, mengkritik, mencemeeh, menghina, menganggu, menyakiti, dan sebagainya. Ada pula yang tak terlihat seperti tersenyum palsu, kadang menyendiri, bahkan menangis diam-diam.

Tampak sejak lama saya telah memiliki bentuk pengekspresian sendiri tanpa saya sadari. Saya telah memilihnya ke dalam bentuk tulisan. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku. Dalam buku tersebut salah satu tokohnya bercerita kalau menulis adalah cara dia mengobati dirinya, melunturkan dendamnya. Barulah saya menyadari, setiap tulisan yang saya buat ternyata sedikit demi sedikit telah mengikis perasaan kesal dan benci karena menghadapi perbedaan yang dimana menjadi beban sejak berbulan-bulan lamanya. Tulisan itu diam-diam telah menasehati saya.

Saya pernah menghadapi perubahan yang besar dalam hidup. Dan sebenarnya saya benci harus melaluinya saat itu. Hal itu menjadi beban yang kadang-kadang sering muncul dan membuat saya melalaikan aktifitas yang seharusnya dilakukan. Bukan perubahan yang jelek. Malah sejujurnya sangat-sangat baik. Hanya saja saya yang belum siap menerimanya saat itu.

Setahun pertama melewatinya terasa berat. Tahun kedua jadi malah semakin menjadi-jadi. Di tahun ketiga semakin berat namun disinilah saya mulai terbiasa. Tahun-tahun berikutnya sudah semakin terbiasa dan tau caranya bersikap. Hari-hari kedepan pun sudah semakin baik dan lambat laun hal ini pun sudah tak jadi masalah lagi. Waktu telah menjadikan saya bagian dari perubahan itu, mengabu-abukan perbedaan itu.

Dari saat itulah saya memilih untuk mengambil perubahan tersebut dengan ikhlas.  Menjadikannya bagian dari diri saya dalam menyonsong hari-hari masa depan. Waktu dan tulisan telah mendamaikan saya dengan perbedaan.

Advertisements

Kompilasi pikiran

Saya menyesali semua yang telah saya pilih dan saya lakukan sebelumnya. Itu yang akan saya katakan apabila saya tidak memahami makna bersyukur. Tidak mengenal dengan yang namanya takdir.

Seringkali manusia dihadapkan dengan pilihan yang terbatas, lingkungan yang terbatas, sumberdaya yang terbatas, yang dia sendiri sebenarnya tidak ingin di situasi tersebut. Andaikan semua tanpa batas, dimanakah tantangannya? Andaikan semua tanpa batas, mungkin anda bermimpi?

Seringkali melihat orang lain dapat membuat menjadi lupa dengan diri sendiri. Yang dilihat kesuksesan kemewahan dan kenikmatan yang dimiliki mereka. Akibatnya yang ada dimiliki sekarang menjadi tak bernilai, menjadi terlupakan. Yang ada menyakiti pikiran dan hati sendiri. Continue reading “Kompilasi pikiran”

Satu lagi

Alhamdulillah, hari ini saya telah mengikuti sidang sarjana. Satu lagi tahap sudah dilewati. Hanya bisa termenung karena merasa ga maksimal. Saya tidak puas. Ini mungkin kata yang tepat. Ada perasaan campur aduk antara senang dan lelah. Namun lelahnya lebih banyak.

Terimakasih teman-teman ku yang menemani, mengucapkan semangat, do’a, dan membantu pada hari-hari sebelumnya.

Bimbingan ala kadarnya. Mengerjakannya deadline j- sekian. Tidur ga beraturan. Makan sesempatnya. Tidak sehat memang hidup seperti ini. Kadang aku berpikir, adakah guna gelar sarjana ini untuk kehidupan kelak? mungkin ada.. (jawabnya diujung langit, kita kesana dengan seorang anak). Ah sudahlah. Ini membuat jadi pusing saja.

Jadi pikir-pikir lagi buat mengambil S2. Lelah juga belajar. Apalagi sesuatu yang ga bikin excited. Hasil yang didapat juga sebenarnya biasa saja. Mungkin sudah mentok semangatnya sampai disini. Ya hasil yang didapat jadinya ga beda jauh.

Alhamdulillah ya allah. Engkau masih beri aku kesehatan pada hari ini. Masih bisa melampiaskan emosi ini di halaman blog. Masih bisa melihat untuk membaca sumber-sumber ilmu lainnya.

Sekian. Sudah lama ya tidak curhat begini.
Salam dari kosan yang sepi.

Apa salahnya menjadi introvert?

Introvert ataupun ekstrovert.
Hanyalah sebuah istilah yang dibuat manusia.

Untuk menulis diblog ini, jujur saya berpikir dan terus berpikir apa yang akan ditulis. Apakah nanti teman saya akan membaca atau orang tua saya akan menemukan blog ini. Apa yang akan mereka pikirkan? apa yang akan mereka maksud dari tulisan saya. Saya begitu malu juga tuliskan saya dibaca. LOL. Ya gak kenapa-kenapa juga sih kalau dibaca, hanya saja saya orangnya mudah malu.

Yasudahlah. Toh nanti juga akan menjadi kenangan dan tulisan ini terlupakan.

Ngomong-ngomong blog ini udah lama tidak diisi. Sebaiknya diisi dengan apa ya? pengalaman kuliah? liburan? materi kuliah? tulisan random? curhatan? cerita diri sendiri? cerita orang lain? entahlah. Atau… pandangan saya sebagai orang introvert?

Well, sebenarnya saya ga suka cerita tentang diri sendiri atau pengalaman apapun. Satu, mungkin terlihat sedikit arogan. Dua, saya ga pernah ingat persis suatu kejadian apapun secara detail jadi kalaupun nanti nyeritain ke orang pasti ga seru. Tiga, ngomong itu bikin capek. Aneh ya? Jadi saya sukanya ngapain? entahlah. tapi seringnya sih jadi pendengar.

Okedeh, sekian tulisan ini dan selamat malam!

 

Permulaan

Permulaan

Di pagi buta ini sembari menunggu shubuh, saya sangat excited untuk membuat public page ketiga saya ini dimana saya sudah pernah membuat blog seperti ini juga di blogger dan tumblr namun keduanya tidak berisi hal yang penting, maklum dibuat ketika zaman-zaman ababil.

Setelah saya tiba-tiba mendapatkan ilham untuk menshare sesuatu kepada banyak orang, terlebih lagi saya seringnya hanyalah silent reader, dan i always do googling everyday to full fill my high curiosity about many things,  -seringnya sih berita receh-receh atau informasi ga penting gitu-, maka dari itu saya berniat membuat blog ini untuk berbagi ke teman-teman semua mengenai beberapa ilmu yang saya dapat di perkuliahan, pengalaman, informasi kesehatan, dan hal lainnya yang saya rasa bermanfaat. Sisi lainnya, agar saya juga bisa berhenti googling hal-hal receh itu juga, hahaha.

Saya masih inget waktu zaman SMA kelas 3, ada sebuah blog yang juga bantuin saya belajar, blog pak anang, isinya tentang materi, soal-soal, UN dan SBMPTN. Beliau pemilik blog adalah seorang guru. Blognya bener-bener bermanfaat hingga sekarang dan secara tidak langsung udah banyak bantuin anak-anak dalam belajar. Sukses terus buat pak anang dan semoga menjadi amal jariah. Dan saya terinspirasi akan hal ini.

Ilmu bukanlah untuk kau pendam sendiri
Ilmu akan sia-sia jika tidak kau terapkan

Memiliki 1 ilmu berarti menerapkan 1 hal
Namun dengan kau berbagi,
memiliki 1 ilmu, kau bisa menerapkan 100 hal
Ada dirimu yang lain yang akan membantu