Jabatan dalam pohon

IMG_20170924_100750.jpg

Suatu perusahaan/organisasi itu ibarat sebuah pohon. Posisi dan peran tiap jabatan dapat dilihat dari bagian pohon tersebut.

Karyawan biasa bagaikan akar pohon. Akar menopang dan mencari sumber air dan nutrisi untuk pertumbuhan pohon. Dia bergerak semakin dalam dan menjalar kemana-mana untuk mencari makanan pohon. Namun akar sesuai kodratnya akan selalu tertanam dalam tanah dan tidak dapat dengan mudah melihat kondisi sekitarnya. Yang dia tau hanyalah kondisi di bawah. Continue reading “Jabatan dalam pohon”

Advertisements

Sekolah Untuk Perempuan

Kalau sekolah ya jangan tinggi-tinggi, nanti susah cari jodohnya.
Sekolah jangan ambil yang susah-susah, nanti lama lulusnya.
Sekolah jangan lama-lama, nanti ketuaan, susah dapat jodoh.
Kerjanya jangan yang terlalu tinggi pangkatnya, nanti susah dapat jodoh.
Dst ga abis-abis kayak sinetron.

Sampai saya mikir, mending saya ga usah sekolah umum dari awal. Mending ikut sekolah pra-nikah langsung aja kalau patokannya ke jodoh. Beres dah ga dikomenin lagi.

Tapi untungnya saya ga ngikutin pikiran bego itu. Dan alhamdulillah, takdir hidup saya pun ternyata semakin baik (menurut saya). Karena apa yang saya lakukan hari ini, manfaatnya adalah untuk saya sendiri, bukan siapapun.

Dan saya masih ga paham, apa hubungan sekolah, jodoh, dan menikah? It’s super funny suggestions. Crappy. Can someone tell me a good answer of them? Oke, anggaplah saya sekarang sok tau. Dan saya bener-bener dah ga ngerti lagi mesti nanggepin ntu saran gimana. Melongo saya kalau di 2017 masih ada yang nyebutin pernyataan begitu.

Baiklah akan saya coba paparkan, dari pandangan saya. Continue reading “Sekolah Untuk Perempuan”

Makan (tidak) harus pake cabe

Loh makannya ga pake cabe? Mana enak makan tu, ndak berasa. Coba lihat adek ni, kecil-kecil berani dia makan pake cabe. Ini dah besar ndak juga makan pake cabe.

‘Iya ndak suka pedas’, jawab saya singat. Dalam hati: apa salah nya ga makan pedas, ga jadi cupu juga, malahan bagus hemat belanja, harga cabe mahal, dst, wkwkwk.

Pertanyaan yang cukup sering ditanyakan om dan tante ketika melihat saya makan ga pake cabe. Apalagi pas waktu lebaran makan bersama, masih ada yang nanyain. Dari banyaknya jenis makanan minang yang penuh dengan bumbu rempah-rempahnya, gulai santan, goreng sambal, dan goreng-gorengan bercabe, biasanya saya memilih makanan yang cabenya ga keliatan ataupun jenis gulai-gulaian yang ga terlalu pedas. Yang makanannya penuh lumuran cabe merah dan cabe hijau tidak saya ambil.

Ini masalah selera sih.

Biasanya di pekanbaru, memang kebanyakan makanan yang dibeli dari warung makan langsung dikasih sambal di makanannya. Ga ada level-levelan pedas. Sama semua pedasnya satu menu. Jadi kalau pesan nasi goreng atau mi goreng ga bilangin penjualnya supaya ga pedas, ya jangan harap bakalan ditanyain.

Selama nge-kost di bandung, kebutuhan makan saya alhamdulillah baik-baik saya. Malahan saya aman makannya dari kepedasan karena cukup banyak makanan yang dijual ga pedas, walaupun keliatannya pedas-warna merah, tapi ga pedas sama sekali hahaha. Kalau pesen makan semisal nasi goreng dan mi goreng, di menu ada level pedasnya bahkan hingga 5 level. Awal-awal saya heran ada banyak loh yang seperti ini. Kalau pesan makan pun begitu, penjual sering nanyain pake sambal atau engga, pedas atau engga.

Dan baiknya lagi, ga ada teman saya yang heran kalau liat temannya makan polos (ga pake sambal, ataupun tomat, kecap). Biasanya kalau titip makan juga sering ditanyain teman, mau pedas atau engga. Biasa aja tuh. Malah agak ‘wow’ gitu kalau ada teman yang makannya penuh dikasih sambal, sedangkan dia cuma ambil secuil sambal. Sambal bandung kadang-kadang emang ga terlalu pedas sih. Biasanya anak sumatera yang makannya harus pake sambal. *Pengecualian saya*

Balik lagi, ini masalah selera.

Sikapi biasa saja, yang selera makannya agak beda. Selera boleh beda-beda, tapi minumnya tetap teh botol sosro. Sekian.

Berpikir kritis + Sedikit pengalaman SBMPTN

berpikir-kritisSaya sangat mengapresiasi setiap orang tua yang ada di muka bumi ini. Orang tua yang tak terhingga jasanya telah mendidik, membesarkan, merawat, membiayai, mengajarkan, membina, menyayangi dan menaseti anak-anaknya. Setiap orang tua adalah panutan pertama anak-anaknya. Dan anak ada tanggungjawab yang besar untuk orangtuanya.

Well, bersyukur lah kita yang dilahirkan di tahun 90-an atau yang sebelumnya. Dan lebih bersyukur lagi lah kalian adik-adikku yang lahir di generasi sekarang atau millenium. Setiap generasi punya momen-momennya sendiri dan pastinya momen ini berbeda-beda. Dan ini adalah beberapa opini saya tentang ‘pentingnya didikan orangtua’ yang mungkin kebanyakan mirip di generasi saya dulu ataupun masih ada yang sama dengan di masa sekarang. Continue reading “Berpikir kritis + Sedikit pengalaman SBMPTN”

(Ladang) memberi di sekitar kampus

Saya sedang berpikir hari ini, kenapa orang miskin selalu ada, orang mengaku miskin selalu ada, kenapa orang minta-minta selalu ada, kenapa penipu banyak sekali, kenapa banyak sekali pengamen dari yang bocah, bencong, sampai yang tua. Tiap hari. Di tempat yang sama. Apakah itu mata pencaharian mereka? Saya bingung kadang.

Kampus sepertinya memang lokasi strategis. Dimana banyak manusia tiap harinya. Dimana banyak yang makan, banyak yang polos, banyak yang ingin beramal. Tapi orang-orang seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama yang membuat orang di sekitar mereka menjadi tidak peduli.

Selama hampir 4 tahun saya kuliah, dari pengamatan ala kadarnya, beberapa pemandangan yang saya tangkap di sekitaran kampus ITB:
1. Ibu tua yang duduk di bangku jalan area teduh dekat gerbang sr. Tapi sekarang udah jarang keliatan. Ini ibunya ga ngomong apa-apa, duduk aja menanti ada yang ngasih.
2. Ibu tua (kayaknya) yang sekitaran masjid salman. Udah jarang keliatan.
3. Ada bapak tua tunanetra yang duduk dekat gerbang depan. Ini keterlaluan memang kalau ada anak atau kerabat yang sengaja nyuruh bapak ini duduk depan kampus nungguin ada yang ngasih. Jadi keinget waktu saya smp, ada yang sengaja juga ninggalan orang tua tunanetra di depan smp loh itu.
4. Anak kecil jualan tisu sama vitamin C pake wajah memelas dan agak maksa. Ini udah selama saya kuliah liat terus orangnya sama.

Yang saya ragu ini beneran atau ada bohongnya:
1. Yang jualan kupon voucher tapi katanya ada sebagian buat sumbangan buat penderita lupus, kanker, dsb. Harga kuponnya 100rb ada macam2 diskon dalamnya.
2. Yang minta sumbangan buat pembangunan masjid, anak yatim, panti jompo. Bawa kertas agak aneh isinya dan udah lama banget, tulisan yang jelas dikertasnya cuma tanggalnya doang.
Ciri2nya: banyak ngomong dan ga memberikan kesempatan buat nanya 😂, banyak muji-muji, cerita panjang lebar, patut dicurigakan.
Ngomongnya sih jago, coba kerjaan jualan pasti laku dagangannya.
Yang seperti ini saya agak ngeri, bisa double bebannya, berbohong dan ga amanah lagi, wallahualam.
3. dan berbagai metode penipuan lainnya, mulai dari nelpon ortu, nyerakin dokumen di jalan, sms/nelpon atas nama rektorat/kampus, hipnotis, dsb.
4. Penipuan di baltos katanya mau ngasih hadiah
5. Jual sesuatu barang buat pengobatan istri. Setelah dipikir2 ini agak aneh. Istrinya dirawat agak jauh tapi ngejualnya di sekitaran kosan. Kenapa ga jual ke rumah penduduk padahal pintunya ke buka? Kenapa jual ke mahasiswa? Bukannya ada bpjs ya? Semoga bapaknya jujur…

Yang jualan:
1. Ada ibu tua yang jualan makanan ringan. Udah jarang liat.
2. Ada bapak penjual amplop. Tapi ini seringnya liat di hari jumat. Bapaknya udah meninggal.
3. Bapak penjual keset kaki di deket tangga penyebrangan bip.
*Ibu dan bapak yang sudah lanjut usia masih tetap bekerja mencari nafkah yang halal…yang ini luar biasa, gapapa.

So, bagaimana kampus yang lain?
Kalau mau memberi ya sepertinya harus hati-hati. Apalagi sekitaran kampus. Apakah dengan kita memberi akan membuat mereka malah semakin betah untuk bermalas-malasan dan hanya mengandalkan meminta-minta bahkan berbohong? Wallahualam. Kalau ragu, walaupun berat, berdiam lebih baik.

Kehendak bebas

Beberapa hari yang lalu saya membaca postingan line dari 2 orang yang saling membalas pesan melalui OA. Dan saya menemukan argumentasi yang menarik sekali tentang apa itu kehendak bebas. Saya tidak akan bahas isi dari tulisan si penulis disini.

Intinya sampailah saya kepada pemikiran dan keyakinan bahwa tindakan, nasib, rezeki, prestasi, kesehatan, keberhasilan, kegagalan dan hal duniawi lainnya yang didapat itu bukanlah karena kehendaknya sendiri, bukan karena dia memilih. Kalau iya itu adalah kehendak semu yang hanya ada dipikiran. Continue reading “Kehendak bebas”