Curhat-curhat awal mula laptop asus rusak

Dua minggu lalu, saya terpaksa beli laptop baru karena laptop asus seri X450J yang saya beli 2 tahun lalu motherboardnya rusak gara-gara overheat. Pas banget beberapa bulan 3 bulan setelah garansinya habis. Saya ga ngerti kenapa laptop tersebut yang sebegitu cepatnya bermasalah. Masalah baterai dan LCD dalam 2 tahun. Mungkin kali ya saya makenya ugal-ugalan. Tapi toh saya juga ga pakai buat gaming. Palingan juga laptop sering hidup terus ya karena sebagai anak kosan yang ga punya tv, apalagi kalau mainannya bukan laptop.

Ini asumsi saya saja, awal mula masalahnya itu muncul overheat dari baterai. Baterainya cuma tahan 2 jam. Kata teman, ini memang karena intelnya seri HQ yang dimana lebih boros listrik dibanding seri U. Akhirnya jadi sering nyolok terus karena ya kali nonton ataupun ngerjain tugas cuma 2 jam. Baterai pun drop ga bisa ngecas full lagi. Cuma bisa sekitar 80% dan keterangannya itu charger but not plugging. Continue reading “Curhat-curhat awal mula laptop asus rusak”

Tragis, laptop rusak dan kecopetan di angkot di minggu wisuda

Saya udah balik ke bandung sejak tanggal 3 Juli 2017. Sangat terpaksa balik cepat karena mau mengurus persyaratan untuk kelulusan pada bulan Juli ini. Perbaiki buku TA, bayar iuran wisuda, nunggu pengumuman hasil yudisium, dan lain-lain dikerjakan dari tanggal 3-7 Juli. Setelahnya saya tidak punya kegiatan lain. Di kosan, main hp, main hp, main hp, main ke kosan orang. Btw, judulnya udah kayak clickbait yutub belum? hahaha.

Laptop saya rusak saat itu. Setelah dicek di service centre asus selama seminggu, hasilnya ternyata sakit parah, udah koma alias motherboardnya rusak. Ternyata bulan lalu adalah saat terakhir kalinya saya bisa bersama dengan si asus yang baru menemani saya selama 2 tahun. Continue reading “Tragis, laptop rusak dan kecopetan di angkot di minggu wisuda”

Belajar dengan sindiran

Akhir-akhir ini saya ngerasa kalo waktu 24 jam itu ga cukup. Ga cukup banyak untuk ngelakuin semua hal dalam satu hari misal main, nonton, ngerjain tugas belajar. Pasti ada-ada aja keteteran. Ngerjain TA ini menyita waktu ku. Duduk depan laptop dari pagi, makan solat, duduk lagi, cek-cek hp eh kebablasan berjam-jam, trus mulai lagi megang laptop. Gitu aja trus hampir berminggu-minggu ini. Harusnya sekarang saya lagi benerin draft TA dan gambar-gambarnya itu yang menurut saya masih kurang-kurang jelas karena hari kamis mau dikasihin ke dosen penguji. Uwooo.

Ditengah-tengah kebosanan tersebut, tiba-tiba kepikiran tentang…

Sindiran.

Nyinyir kalo anak muda sekarang bilang.

Dipikir-pikir lagi, saya bisa menjadi seperti sekarang karena sindiran. Ya, sindirannya sebagian saya dengar trus sebagian saya tanggapi dengan ngomel-ngomel dan sebagian lagi nancep ke dalam hati sampai sekarang. Entah sengaja atau tidak, tapi saya anggap sebagai sindiran sampai saat ini. Kalo orang tua bilang itu nasehat. Tentu cara penyampaiannya beda-beda, (1) ada yang lemah lembut, (2) ada yang to the point, (3) ada yang dengerinnya sampai kesal. Kebanyakan saya (ngerasa) disindir nya dengan cara (2) dan (3). Jadi kalo disuruh buat nasehatin/bilangin orang secara baik-baik dan tutur kata lemah lembut, saya ga tau caranya.

Lihat ni si A, rajin bantu orangtuanya. Lihat ni si B, sopan santun, dan lihat-lihat yang lainnya. Oke wajar orangtua ingin anaknya berbakti ke orang tua. Sayanya saja yang pemalas kalo soal kerjaan rumah, misal nyuci piring dan gosok baju. Ya malas aja soalnya banyak bendanya udah menumpuk-numpuk. Kebawa-bawa juga sampai sekarang. Lebih milih mendekam di kosan daripada harus nginep rumah om tante dimana sewajarnya saya harus bantu kerjaan rumah juga.

Persoalan yang umumnya adalah soal hijab/kerudung/jilbab.

“Masyaallah, makin cantik ya sekarang pakai hijab”, kira-kira beginilah tanggapan teman-temannya. Diapun tampak lebih stylist dan gunain kerudungnya udah pro gitu.

Beberapa anak muda menggunakan hijab setelah perenungan yang panjang, niat ingin mendekatkan diri kepada allah, niat ingin jadi lebih baik dan sebagainya.

Kalau saya

“Iya iya nanti pas masuk SMA”, jawaban karena lelah disuruh-suruh terus make. Akhirnya saya make di hari sabtu (kayaknya pertama masuk sekolah) dengan ala kadarnya. Jilbabnya udah belepotan ga karuan. Lucu juga ya hahaha. Niatnya cuma satu, biar ga usah dinasehatin lagi.

“Anggun-anggun ya anak-anak X, pada pake rok” atau “Apa tu celana, keliatan tu auratnya (bentuk tubuhnya, kakinya), jelek pakai celana pakaiannya kayak lelaki”. Dan entah kenapa setelah itu baju-baju saya adanya rok semua -___- dan ga pernah dibeliin kalo yang selain rok. Niatnya cuma satu lagi, biar ga usah dinasehatin lagi dan baju saya adanya itu doang. Tampaknya doang jadi anak baik. Padahal niatnya ga murni-murni banget karena ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Sampai-sampai sekarang saya mikir, saya udah di tahap seperti ini (mungkin disaat orang lain baru punya niatan) tapi kok saya ga dapet apa yang saya mau. Merasa hidup terkekang, saat orang lain punya jurus 1000 langkah. Untuk ke tahap lebih tinggi, saya pun sebenarnya jadi lebih takut. Pertanyaan tentang ‘harus dengan cara seperti apa lagi agar saya mendekatkan diri kepada Allah?’ ‘apa tindakan hijrah yang benar-benar saya lakukan dengan niatan sendiri?’. Prinsip take action and think later kadang bikin ngejalaninnya setengah hati.

Intinya, sindiran/nasehat itu punya efek yang keras. Selain itu, lingkungan yang paling utama ngebentuk karakter dan penampilan seseorang. Sekian post random kali ini.

Jadi yang biasa

Selama 2 minggu ke belakang ini, banyak hal yang sudah saya lalui. Deadline-deadline yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu tidur serta hal-hal refreshing yang menguras waktu istirahat, namun saya tetap melakukannya karena bosan.

By the way, kemarin saya habis pameran tugas akhir. Hasilnya? Dianggap not bad lah. Therefore, tugas akhir saya kepilih buat dijadiin contoh tugas akhir yang dikirim ke abet. Yang saya lakukan sampai hari ini? Tersenyum kecut, bersikap santai, tidur sesukanya, dan belum memulai mengerjakan apapun padahal deadlinenya tanggal 23. Yaa semoga saja besok bisa diburu walalu sebenarnya saya sendiri ga yakin.

I am a pro deadliner. Itu moto saya. Walau jujur… sebenarnya jadi deadliner sangat-sangat-sangat capek.

Udah dulu ya kata pengantarnya. Sebenarnya yang ingin saya bahas adalah kebingungan saya tentang sebenarnya saya ini di posisi seperti apa dan ingin di posisi apa.

Let me tell you.

Sebagian orang-orang sangat awam, mungkin melihat penampilan saya sebagai anak baik-baik. Pakai kerudung yang udah agak tebal, udah ga pake kerudung lempar ke bahu, dan pake rok. Standar kebaikan dari penampilan buat jadi anak baik udah meningkatlah ya. Jadi muslimah baik. Padahal… who knows buat istiqomah itu sulit. Kalo standar kebaikan cuma dilihat dari penampilan, persepsi semua orang mudah disetir. Tapi yang terjadi sekarang memang begitu, standar kebaikan dimulai dari penampilan.

Tapi bukan itu inti cerita yang ingin saya sampaikan.

Nah, saya ini termasuk orang yang melihat standar kebaikan dari penampilan. Semua yang pakai kerudung, pake rok, pake kaos kaki, saya benar-benar kagum dengan mereka. Serius. Tapi kadang, saya bingung dengan sebagian mereka, yang ternyata saya anggap baik, ternyata belum baik. Yah kagum sama manusia emang ga ada gunanya.

Pertama, ada yang masih pacaran. Katanya sih ala-ala syar’i. Ga ngapa-ngapain. Secara baik-baik saja. Mungkin iya standar baik di mata orang awam. Mereka mungkin merasa lebih ‘senang’, karena kemana-mana ada yang nemenin, ada teman makan, ada teman curhat, ada yang bantuin ngerjain tugas, ada teman jalan, ada yang nyemangatin, dll. Mereka pintar dalam hal akademik, berbicara depang umum, punya softskill yang bagus, disenangi banyak orang, tapi sayang aja, masih memilih untuk mencari jodoh dengan cara tidak halal.

Kedua, ini masalah belajar. Banyak perempuan yang pintar dan ingin melanjutkan pendidikannya setinggi-tingginya. Mereka pun mempunyai orang tua yang mendukung. Look so perfect, right? Mereka tinggal fokus dan belajar untuk mencapai hal tersebut. S2 atau S3 di luar negeri? Bagi orang-orang yang punya segudang cita-cita tinggi, bisa jadi itu salah satu impiannya. Bangun negara. Kontribusi terhadap dunia penelitian, pendidikan, ataupun pengabdian masyarakat. How amazing are they? Udah mikirin kemaslahatan banyak orang aja. Dan tentu sebagian dari mereka, udah saya anggap seseorang yang lebih muslimah.

Tapi apa iya bagi seorang perempuan itu menjadi jalan ibadah? It’s… your choice. I’m confused what the right answer.

Jujur saya sendiri masih tidak paham maksud hadist yang menyebutkan haram wanita bepergian tanpa mahram. Ada yang bilang boleh kalau sejauh perjalanannya kurang satu hari, ada yang bilang haram. Ada yang bilang tiga hari, dan lain-lain. Ada juga yang bilang, jangankan pergi sendiri saja tidak boleh, apalagi tinggal sendiri (maksudnya safar saja dilarang apalagi bermukim), ada juga yang bilang boleh. Banyak sekali versinya. Membingungkan.

Kalau mengambil paham keras, perempuan tidak boleh bepergian tanpa mahram dan tinggal sendiri di luar negerinya, haram hukumnya. Apakah paham ini sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang? Kemana-kemana sekarang gampang, tinggal naik pesawat. Negara yang jauh terasa dekat. Ga butuh berhari-hari untuk sampai ke negara tujuan seperti zaman dulu. Bisa jadi negara tujuan tersebut, tingkat kriminalitasnya sangat rendah dibanding negara/kota sekarang dia tinggal. Tapi apa iya dengan alasan untuk menuntut ilmu, ilmu kan ibadah, nanti ilmunya bisa dibagikan ke banyak orang lalu jadi sedekah jariyah, melakukan penetian dan menemukan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang, berlatih hidup mandiri dan sebagainya. Menjadi orang yang bermanfaat, apa iya harus ditempuh dengan jalan mencari pendidikan keluar negeri melaui cara bepergian sendiri? Bingung? Solusinya? Easy. Nikah aja. Ada teman untuk menemani dan ga takut kalo dosa. I realize, nikah ga semudah itu apalagi nanti keinginan kita bakal dituruti, apalagi tanggungjawab bertambah dibanding hidup sendirian.

Ah satu lagi, ada dongeng yang disampaikan ke saya, menyebutkan bahwa ilmu dunia ga guna. Apapun itu ilmu dunia. Karena yang bermanfaat hanyalah ilmu akhirat. Hanya ilmu agama yang dibawa mati. Ga guna cari ilmu setinggi-tingginya entah itu sampai gelar doktor bla-bla. So, buat apa saya disekolahin dari dari umur 6 tahun di sekolah umum. Belajar capek-capek 11 tahun. Terus kuliah 4 tahun. Kadang kalo ada yang bilang seperti ini saya merasa sedih dan ga guna. Tapi pecundang sekali saya jika mengaminkan pernyataan tersebut tanpa berbuat apa-apa.

Complicated.

Sepertinya memang, hal yang terberat bagi perempuan adalah pacaran dan bepergian.

Saya sebagai perempuan yang biasa saja, merasa berat akan kedua hal tersebut. Apalagi yang nomor 2. Sebagai perempuan mandiri, saya ingin bisa kebanyak tempat, melakukan banyak hal, melakukan sesukanya yang saya inginkan. Ceileh.

Tergolong dalam kategori biasa, menjadi berat untuk saya harus mengimplementasikan  hal kedua tersebut ke dalam kehidupan saya. Keadaan memaksa saya harus cepat beradaptasi. Tertekan. Walaupun sejujurnya dalam hati, sangat-sangat-sangat ingin berkata, “ntar-ntar ajalah, kan saya ini biasa-biasa aja, penampilan juga biasa saja, ga terlalu muslimah, ga alim-alim banget, bukan anak mentoring juga, ambil paham yang ringan-ringan saja”. Tapi… saya harus bisa menahan banyak keinginan dan cita-cita tersebut hingga waktu yang belum ditentukan. Bersabar. Bersabar. Setiap hari. Ini ilmu yang paling mahal saya pelajari.

Yang pasti alasan saya untuk tinggal di kota dan negara yang berbeda karena saya ingin menemukan kebenaran akan suatu hal. Misal, apakah benar orang luar negeri jahat-jahat? Apakah benar orang luar lebih pintar? Apakah benar mereka tidak menghargai muslim? Apakah benar tinggal disana lebih nyaman dan aman? Apakah benar disana pendidikannya lebih bagus? Apakah benar… dongeng-dongeng yang saya dengar itu nyata ataukah hanya sebuah mitos? Saya pasti akan selalu penasaran.

Udah ah nyinyirnya.

Terakhir, saya mau mengucapkan selamat buat salah satu sahabat terbaik saya, Dini, yang sudah selangkah lebih maju. Semoga surga menjadi lebih dekat dengannya ya. Amiin.

 

 

Cerita gagal fokus- lupa kunci

Jadi waktu aku masih sekosan berdua sama teman, aku pergi kuliah duluan. Kayaknya ini saat-saat masa TPB. Terus kuliah lah aku hari itu biasa aja. Pulang-pulang aku dikabarin kalau tadi pagi aku lupa nyabut kunci padahal udah dikunci. Jadinya teman aku ga bisa buka pintu dong padahal dia mau pergi kuliah juga. Hahaha. Untungnya ada jendela pas di samping pintu, jadi bisa nyabut kuncinya deh dari dalam.

Adalagi cerita lain. Biasanya kan aku yang lama tidurnya. Karena kamar aku dan teman di depan (dekat pagar pintu masuk), jadi aku suka meriksain pintu sebelum tidur, kan bahaya tuh. Trus aku juga sering gembokin pagar, karena emang ga ada yang jaga ini kosan. Kadang sampai jam 1 atau 2 malam aku juga keluar buat gembokin sebelum tidur. Nah pada suatu hari, aku ternyata lupa ngunci pintu depan! btw kamar aku ada dua lapis pintu. Kayaknya abis gembokin pagar ini. Untungnya sih gapapa. Alhamdulillah aman. Trus karena aku bangunnya duluan, yaudah aku kunci pintunya (pura-pura emang terkunci dari malam). Sampai sekarang teman aku mungkin ga pernah tahu kalau pintu ternyata pernah beberapa kali ga kekunci.