Bahaya konsumsi yang haram

Semua taulah ya kalau dalam islam makanan yang haram itu contohnya babi, bangkai hewan, hewan yang disembelih bukan dengan nama Allah, darah, dan makanan yang dilarang lainnya. Tapi ternyata ga cuma itu. Ga cuma dari jenis makanannya, tapi dari cara mendapatkannya juga diperhatikan. Kalau cara dapetinnya dengan yang haram, walaupun makanannya lezat dan bergizi bisa jadi sesuatu yang haram. Semua tau kalau makanan yang dikonsumsi akan masuk ke dalam tubuh. Sari makanan tersebut dibawa oleh darah ke seluruh tubuh. Ada juga yang akan menjadi otot/daging. Can you imagine? Sesuatu yang haram tersebut melekat di tubuh dan bersama kita setiap hari. Continue reading “Bahaya konsumsi yang haram”

Advertisements

Metode apa dalam menasehati/komunikasi yang optimal?

Ada yang lebih mudah memahami ketika disampaikan secara lisan. Ada pula yang penyampaiannya lebih mudah dipahami lewat tulisan. Ada pula orang yang tidak mudah memahami lewat apapun disampaikan. Bukan, bukan pesannya yang tidak baik atau terlalu sulit. Bukannya juga medianya yang salah. Misskomuninasi bisa saja terjadi karena hal sepele, frekuensinya yang tidak tepat atau pesannya yang ternyata tidak terkirim karena kehabisan pulsa. #maksalucu

Menurut yang saya kutip dari sini, proses komunikasi adalah proses penyampaian gagasan/pikiran oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Agar komunikasi berjalan dengan lancar maka Wilbur Schramm dalam karyanya “communication research in the United States” menyatakan bahwa: “Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection experience and meanings) yang pernah diperoleh oleh komunikan”. Menurut Schramm, bidang pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting dalam komunikasi. Jika pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, maka komunikasi akan berlangsung lancar. Continue reading “Metode apa dalam menasehati/komunikasi yang optimal?”

Kerja dulu atau langsung lanjut kuliah S2?

Mungkin sebagian ada yang sama bingungnya dengan saya ketika berada di penghujung kuliah. Ingin kuliah, tapi mau lanjut kuliah juga. Kuliah S2 tapi mikirnya bagusan ada pengalaman kerja dulu 1 atau 2 tahun ga sih? Baiknya gimana? Jawabannya terserah kalian. Kalian yang lebih tau mana yang terbaik. Tiap orang pertimbangannya beda-beda. Pilihan ga terbatas, mau lanjut S2 sambil kerja juga bisa. Ga kerja dan ga lanjut S2 juga ada sisi positifnya pilihan tersebut.

Menurut kbbi, keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran; bercita-cita adalah berkeinginan sungguh-sungguh; mencita-citakan adalah menginginkan dengan sungguh-sungguh. Saat usia 20 tahun saya memutuskan untuk tidak mempunyai cita-cita mengenai kerjaan/profesi/karir. Dimana semua mahasiswa tingkat akhir sudah merencanakan nanti akan kerja apa, kerja dimana, kerja di bidang apa, ingin posisi/karir seperti apa, gaji seberapa besar, kerja yang benar-benar aplikasiin ilmu kuliah atau engga, malahan saya semakin abu-abu. Pikiran saya kerja ya kerja, nothing special. Kerja ya buat dapetin penghasilan, kerja ya sebuah tanggung jawab yang ada kompensasinya. Continue reading “Kerja dulu atau langsung lanjut kuliah S2?”

Tips anakost: memilih 7 barang yang perlu ada agar kamar kostmu menjadi rapi

Setelah menemukan kamar kost yang sesuai, hal-hal lain yang perlu dilakukan adalah memilih barang-barang kost yang sesuai dengan keperluan. Ruangan kamar kost yang terbatas harus diatur sedemikian rupa agar barang-barang kost muat dan tidak malah jadi sesak. Berikut ini barang-barang kost yang kiranya dibawa/dibeli seperlunya.  Continue reading “Tips anakost: memilih 7 barang yang perlu ada agar kamar kostmu menjadi rapi”

Tips anakost: #memilih kamar kost

Kali ini saya mau bagi tips dalam memilih kamar kost berdasarkan pengalaman saya menjadi anak kost selama lebih 4 tahun di Bandung. Well, kebutuhan kamar kost tiap orang beda-beda dan sesuai budgetnya masing-masing. Apalagi di Bandung, masih tergolong mahal euy bagi saya yang anak daerah ini. Kalau mau dapat kamar yang bagus tentu ada biaya lebih yang dikeluarkan. Ini ada tips-tips dari saya supaya kalian tepat milih kamar sehingga bisa hidup sejahtera selama perkuliahan atau bekerja. Bagi saya yang tipe malas pindah-pindahan, milih kamar itu bagaikan milih rumah, butuh mikir-mikir detail juga! Hahaha!

  1. Cari tau fasilitas properti dalam kamar apa aja.

Ini merupakan pertanyaan yang kudu wajib kalian cari tau secara detail. Kamar kost standar biasanya ada kasur, lemari, meja dan kursi belajar. Cek apakah fasilitas tersebut masih baru dan bisa digunakan. Kebanyakan kostan sekarang ini hanya menyediakan kasur saja di lantai dan tanpa dipan.  Coba tanya pemilik kost, apa bisa mengganti/menambah property tersebut, misalnya tambahin dipan tempat tidur. Kalau ada tempat tidur yang memiliki kolong, kalian bisa manfaatin tu kolongnya buat simpan barang-barang biar kamar kalian jadi lebih lega. Continue reading “Tips anakost: #memilih kamar kost”

Jabatan dalam pohon

IMG_20170924_100750.jpg

Suatu perusahaan/organisasi itu ibarat sebuah pohon. Posisi dan peran tiap jabatan dapat dilihat dari bagian pohon tersebut.

Karyawan biasa bagaikan akar pohon. Akar menopang dan mencari sumber air dan nutrisi untuk pertumbuhan pohon. Dia bergerak semakin dalam dan menjalar kemana-mana untuk mencari makanan pohon. Namun akar sesuai kodratnya akan selalu tertanam dalam tanah dan tidak dapat dengan mudah melihat kondisi sekitarnya. Yang dia tau hanyalah kondisi di bawah. Continue reading “Jabatan dalam pohon”

Berdamai dengan perbedaan

Entah berapa kali saya menulis post dengan tema yang sama walau dengan judul post yang berbeda. Rasanya tiba-tiba ada saja hal yang diulang terus mengenai hal ini. Seperti pesan-pesan yang dikirimkan tapi tak pernah ada balasnya. Begitulah rasa penasaran ingin terus mengulang kembali cerita ini untuk melengkapi cerita lama.

Saya kira setiap saya berada dalam perahu yang sama dengan seseorang/sekelompok orang maka tujuan kita pun sama. Ternyata saya salah sangka. Harapan hanyalah tinggal kenangan. Berharap dengan mudah bisa menemukan yang setujuan itu sia-sia belaka. Ya kata orang-orang, bersama itu lebih baik daripada sendiri. Saya coba turuti pepatah ini. Namun yang saya hadapi di akhir adalah berkutat dengan rasa takut. Rasa takut ditinggal sendirian. Asing. Kembali.

Tanpa disadari, manusia cenderung mewarisi sifat dari generasi sebelumnya. Entah itu berapa persen akan melekat menjadi karakternya. Manusia juga sedikit banyak mendapat hal dari sejarah generasinya yang telah lampau. Entah berapa persen pula hal ini akan berkontribusi dalam jalan hidupnya. Belum lagi hal-hal lainnya. Tak mungkin bisa samakan ceritanya?

Tak mudah menerima perbedaan. Itu yang sejauh ini saya rasakan. Walaupun sudah berusaha keras untuk menerima, tapi masih saja ada perasaan gelap. Begitu pula dengan perubahan. Perubahan masih dari bagian perbedaan. Berubah atau menjadi berbeda dari biasanya. Asing.

Ada banyak cara pengekspresian orang untuk menanggapi perbedaan ini. Bermacam bentuknya. Ada pengekspresian yang terlihat seperti santai biasa saja, marah-marah, mengkritik, mencemeeh, menghina, menganggu, menyakiti, dan sebagainya. Ada pula yang tak terlihat seperti tersenyum palsu, kadang menyendiri, bahkan menangis diam-diam.

Tampak sejak lama saya telah memiliki bentuk pengekspresian sendiri tanpa saya sadari. Saya telah memilihnya ke dalam bentuk tulisan. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku. Dalam buku tersebut salah satu tokohnya bercerita kalau menulis adalah cara dia mengobati dirinya, melunturkan dendamnya. Barulah saya menyadari, setiap tulisan yang saya buat ternyata sedikit demi sedikit telah mengikis perasaan kesal dan benci karena menghadapi perbedaan yang dimana menjadi beban sejak berbulan-bulan lamanya. Tulisan itu diam-diam telah menasehati saya.

Saya pernah menghadapi perubahan yang besar dalam hidup. Dan sebenarnya saya benci harus melaluinya saat itu. Hal itu menjadi beban yang kadang-kadang sering muncul dan membuat saya melalaikan aktifitas yang seharusnya dilakukan. Bukan perubahan yang jelek. Malah sejujurnya sangat-sangat baik. Hanya saja saya yang belum siap menerimanya saat itu.

Setahun pertama melewatinya terasa berat. Tahun kedua jadi malah semakin menjadi-jadi. Di tahun ketiga semakin berat namun disinilah saya mulai terbiasa. Tahun-tahun berikutnya sudah semakin terbiasa dan tau caranya bersikap. Hari-hari kedepan pun sudah semakin baik dan lambat laun hal ini pun sudah tak jadi masalah lagi. Waktu telah menjadikan saya bagian dari perubahan itu, mengabu-abukan perbedaan itu.

Dari saat itulah saya memilih untuk mengambil perubahan tersebut dengan ikhlas.  Menjadikannya bagian dari diri saya dalam menyonsong hari-hari masa depan. Waktu dan tulisan telah mendamaikan saya dengan perbedaan.