#1 EngLes| Memberikan informasi pribadi

Hai, jadi setiap rabu aku berencana bakalan ngepost latihan bahasa inggris yang baru aku pelajari. Biar keinget lama dan langsung dipraktikan. Seri ini aku beri nama #EngLes, english lesson. Here we go!

  • Hi, what is your name?
  • My name is Ika.
  • How old are you?
  • I am 20 years old.
  • Where were you born?
  • I was born in Dumai, Riau?
  • Where do you live now?
  • I have been living in Bandung since 2013 to study in ITB. 
  • How old were you when you moved to Siak?
  • Actually, I was 7 years old when i moved to Siak from Dumai. Then, I moved again to Pekanbaru in 2004. 
  • How long did you live in Pekanbaru for?
  • I lived in Pekanbaru for 9 years.
  • How long did you study?
  • I have been studying since I was 6 years old. I am really tired now to study again.

Satu lagi

Alhamdulillah, hari ini saya telah mengikuti sidang sarjana. Satu lagi tahap sudah dilewati. Hanya bisa termenung karena merasa ga maksimal. Saya tidak puas. Ini mungkin kata yang tepat. Ada perasaan campur aduk antara senang dan lelah. Namun lelahnya lebih banyak.

Terimakasih teman-teman ku yang menemani, mengucapkan semangat, do’a, dan membantu pada hari-hari sebelumnya.

Bimbingan ala kadarnya. Mengerjakannya deadline j- sekian. Tidur ga beraturan. Makan sesempatnya. Tidak sehat memang hidup seperti ini. Kadang aku berpikir, adakah guna gelar sarjana ini untuk kehidupan kelak? mungkin ada.. (jawabnya diujung langit, kita kesana dengan seorang anak). Ah sudahlah. Ini membuat jadi pusing saja.

Jadi pikir-pikir lagi buat mengambil S2. Lelah juga belajar. Apalagi sesuatu yang ga bikin excited. Hasil yang didapat juga sebenarnya biasa saja. Mungkin sudah mentok semangatnya sampai disini. Ya hasil yang didapat jadinya ga beda jauh.

Alhamdulillah ya allah. Engkau masih beri aku kesehatan pada hari ini. Masih bisa melampiaskan emosi ini di halaman blog. Masih bisa melihat untuk membaca sumber-sumber ilmu lainnya.

Sekian. Sudah lama ya tidak curhat begini.
Salam dari kosan yang sepi.

Belajar dengan sindiran

Akhir-akhir ini saya ngerasa kalo waktu 24 jam itu ga cukup. Ga cukup banyak untuk ngelakuin semua hal dalam satu hari misal main, nonton, ngerjain tugas belajar. Pasti ada-ada aja keteteran. Ngerjain TA ini menyita waktu ku. Duduk depan laptop dari pagi, makan solat, duduk lagi, cek-cek hp eh kebablasan berjam-jam, trus mulai lagi megang laptop. Gitu aja trus hampir berminggu-minggu ini. Harusnya sekarang saya lagi benerin draft TA dan gambar-gambarnya itu yang menurut saya masih kurang-kurang jelas karena hari kamis mau dikasihin ke dosen penguji. Uwooo.

Ditengah-tengah kebosanan tersebut, tiba-tiba kepikiran tentang…

Sindiran.

Nyinyir kalo anak muda sekarang bilang.

Dipikir-pikir lagi, saya bisa menjadi seperti sekarang karena sindiran. Ya, sindirannya sebagian saya dengar trus sebagian saya tanggapi dengan ngomel-ngomel dan sebagian lagi nancep ke dalam hati sampai sekarang. Entah sengaja atau tidak, tapi saya anggap sebagai sindiran sampai saat ini. Kalo orang tua bilang itu nasehat. Tentu cara penyampaiannya beda-beda, (1) ada yang lemah lembut, (2) ada yang to the point, (3) ada yang dengerinnya sampai kesal. Kebanyakan saya (ngerasa) disindir nya dengan cara (2) dan (3). Jadi kalo disuruh buat nasehatin/bilangin orang secara baik-baik dan tutur kata lemah lembut, saya ga tau caranya.

Lihat ni si A, rajin bantu orangtuanya. Lihat ni si B, sopan santun, dan lihat-lihat yang lainnya. Oke wajar orangtua ingin anaknya berbakti ke orang tua. Sayanya saja yang pemalas kalo soal kerjaan rumah, misal nyuci piring dan gosok baju. Ya malas aja soalnya banyak bendanya udah menumpuk-numpuk. Kebawa-bawa juga sampai sekarang. Lebih milih mendekam di kosan daripada harus nginep rumah om tante dimana sewajarnya saya harus bantu kerjaan rumah juga.

Persoalan yang umumnya adalah soal hijab/kerudung/jilbab.

“Masyaallah, makin cantik ya sekarang pakai hijab”, kira-kira beginilah tanggapan teman-temannya. Diapun tampak lebih stylist dan gunain kerudungnya udah pro gitu.

Beberapa anak muda menggunakan hijab setelah perenungan yang panjang, niat ingin mendekatkan diri kepada allah, niat ingin jadi lebih baik dan sebagainya.

Kalau saya

“Iya iya nanti pas masuk SMA”, jawaban karena lelah disuruh-suruh terus make. Akhirnya saya make di hari sabtu (kayaknya pertama masuk sekolah) dengan ala kadarnya. Jilbabnya udah belepotan ga karuan. Lucu juga ya hahaha. Niatnya cuma satu, biar ga usah dinasehatin lagi.

“Anggun-anggun ya anak-anak X, pada pake rok” atau “Apa tu celana, keliatan tu auratnya (bentuk tubuhnya, kakinya), jelek pakai celana pakaiannya kayak lelaki”. Dan entah kenapa setelah itu baju-baju saya adanya rok semua -___- dan ga pernah dibeliin kalo yang selain rok. Niatnya cuma satu lagi, biar ga usah dinasehatin lagi dan baju saya adanya itu doang. Tampaknya doang jadi anak baik. Padahal niatnya ga murni-murni banget karena ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Sampai-sampai sekarang saya mikir, saya udah di tahap seperti ini (mungkin disaat orang lain baru punya niatan) tapi kok saya ga dapet apa yang saya mau. Merasa hidup terkekang, saat orang lain punya jurus 1000 langkah. Untuk ke tahap lebih tinggi, saya pun sebenarnya jadi lebih takut. Pertanyaan tentang ‘harus dengan cara seperti apa lagi agar saya mendekatkan diri kepada Allah?’ ‘apa tindakan hijrah yang benar-benar saya lakukan dengan niatan sendiri?’. Prinsip take action and think later kadang bikin ngejalaninnya setengah hati.

Intinya, sindiran/nasehat itu punya efek yang keras. Selain itu, lingkungan yang paling utama ngebentuk karakter dan penampilan seseorang. Sekian post random kali ini.