Jadi yang biasa

Selama 2 minggu ke belakang ini, banyak hal yang sudah saya lalui. Deadline-deadline yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu tidur serta hal-hal refreshing yang menguras waktu istirahat, namun saya tetap melakukannya karena bosan.

By the way, kemarin saya habis pameran tugas akhir. Hasilnya? Dianggap not bad lah. Therefore, tugas akhir saya kepilih buat dijadiin contoh tugas akhir yang dikirim ke abet. Yang saya lakukan sampai hari ini? Tersenyum kecut, bersikap santai, tidur sesukanya, dan belum memulai mengerjakan apapun padahal deadlinenya tanggal 23. Yaa semoga saja besok bisa diburu walalu sebenarnya saya sendiri ga yakin.

I am a pro deadliner. Itu moto saya. Walau jujur… sebenarnya jadi deadliner sangat-sangat-sangat capek.

Udah dulu ya kata pengantarnya. Sebenarnya yang ingin saya bahas adalah kebingungan saya tentang sebenarnya saya ini di posisi seperti apa dan ingin di posisi apa.

Let me tell you.

Sebagian orang-orang sangat awam, mungkin melihat penampilan saya sebagai anak baik-baik. Pakai kerudung yang udah agak tebal, udah ga pake kerudung lempar ke bahu, dan pake rok. Standar kebaikan dari penampilan buat jadi anak baik udah meningkatlah ya. Jadi muslimah baik. Padahal… who knows buat istiqomah itu sulit. Kalo standar kebaikan cuma dilihat dari penampilan, persepsi semua orang mudah disetir. Tapi yang terjadi sekarang memang begitu, standar kebaikan dimulai dari penampilan.

Tapi bukan itu inti cerita yang ingin saya sampaikan.

Nah, saya ini termasuk orang yang melihat standar kebaikan dari penampilan. Semua yang pakai kerudung, pake rok, pake kaos kaki, saya benar-benar kagum dengan mereka. Serius. Tapi kadang, saya bingung dengan sebagian mereka, yang ternyata saya anggap baik, ternyata belum baik. Yah kagum sama manusia emang ga ada gunanya.

Pertama, ada yang masih pacaran. Katanya sih ala-ala syar’i. Ga ngapa-ngapain. Secara baik-baik saja. Mungkin iya standar baik di mata orang awam. Mereka mungkin merasa lebih ‘senang’, karena kemana-mana ada yang nemenin, ada teman makan, ada teman curhat, ada yang bantuin ngerjain tugas, ada teman jalan, ada yang nyemangatin, dll. Mereka pintar dalam hal akademik, berbicara depang umum, punya softskill yang bagus, disenangi banyak orang, tapi sayang aja, masih memilih untuk mencari jodoh dengan cara tidak halal.

Kedua, ini masalah belajar. Banyak perempuan yang pintar dan ingin melanjutkan pendidikannya setinggi-tingginya. Mereka pun mempunyai orang tua yang mendukung. Look so perfect, right? Mereka tinggal fokus dan belajar untuk mencapai hal tersebut. S2 atau S3 di luar negeri? Bagi orang-orang yang punya segudang cita-cita tinggi, bisa jadi itu salah satu impiannya. Bangun negara. Kontribusi terhadap dunia penelitian, pendidikan, ataupun pengabdian masyarakat. How amazing are they? Udah mikirin kemaslahatan banyak orang aja. Dan tentu sebagian dari mereka, udah saya anggap seseorang yang lebih muslimah.

Tapi apa iya bagi seorang perempuan itu menjadi jalan ibadah? It’s… your choice. I’m confused what the right answer.

Jujur saya sendiri masih tidak paham maksud hadist yang menyebutkan haram wanita bepergian tanpa mahram. Ada yang bilang boleh kalau sejauh perjalanannya kurang satu hari, ada yang bilang haram. Ada yang bilang tiga hari, dan lain-lain. Ada juga yang bilang, jangankan pergi sendiri saja tidak boleh, apalagi tinggal sendiri (maksudnya safar saja dilarang apalagi bermukim), ada juga yang bilang boleh. Banyak sekali versinya. Membingungkan.

Kalau mengambil paham keras, perempuan tidak boleh bepergian tanpa mahram dan tinggal sendiri di luar negerinya, haram hukumnya. Apakah paham ini sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang? Kemana-kemana sekarang gampang, tinggal naik pesawat. Negara yang jauh terasa dekat. Ga butuh berhari-hari untuk sampai ke negara tujuan seperti zaman dulu. Bisa jadi negara tujuan tersebut, tingkat kriminalitasnya sangat rendah dibanding negara/kota sekarang dia tinggal. Tapi apa iya dengan alasan untuk menuntut ilmu, ilmu kan ibadah, nanti ilmunya bisa dibagikan ke banyak orang lalu jadi sedekah jariyah, melakukan penetian dan menemukan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang, berlatih hidup mandiri dan sebagainya. Menjadi orang yang bermanfaat, apa iya harus ditempuh dengan jalan mencari pendidikan keluar negeri melaui cara bepergian sendiri? Bingung? Solusinya? Easy. Nikah aja. Ada teman untuk menemani dan ga takut kalo dosa. I realize, nikah ga semudah itu apalagi nanti keinginan kita bakal dituruti, apalagi tanggungjawab bertambah dibanding hidup sendirian.

Ah satu lagi, ada dongeng yang disampaikan ke saya, menyebutkan bahwa ilmu dunia ga guna. Apapun itu ilmu dunia. Karena yang bermanfaat hanyalah ilmu akhirat. Hanya ilmu agama yang dibawa mati. Ga guna cari ilmu setinggi-tingginya entah itu sampai gelar doktor bla-bla. So, buat apa saya disekolahin dari dari umur 6 tahun di sekolah umum. Belajar capek-capek 11 tahun. Terus kuliah 4 tahun. Kadang kalo ada yang bilang seperti ini saya merasa sedih dan ga guna. Tapi pecundang sekali saya jika mengaminkan pernyataan tersebut tanpa berbuat apa-apa.

Complicated.

Sepertinya memang, hal yang terberat bagi perempuan adalah pacaran dan bepergian.

Saya sebagai perempuan yang biasa saja, merasa berat akan kedua hal tersebut. Apalagi yang nomor 2. Sebagai perempuan mandiri, saya ingin bisa kebanyak tempat, melakukan banyak hal, melakukan sesukanya yang saya inginkan. Ceileh.

Tergolong dalam kategori biasa, menjadi berat untuk saya harus mengimplementasikan  hal kedua tersebut ke dalam kehidupan saya. Keadaan memaksa saya harus cepat beradaptasi. Tertekan. Walaupun sejujurnya dalam hati, sangat-sangat-sangat ingin berkata, “ntar-ntar ajalah, kan saya ini biasa-biasa aja, penampilan juga biasa saja, ga terlalu muslimah, ga alim-alim banget, bukan anak mentoring juga, ambil paham yang ringan-ringan saja”. Tapi… saya harus bisa menahan banyak keinginan dan cita-cita tersebut hingga waktu yang belum ditentukan. Bersabar. Bersabar. Setiap hari. Ini ilmu yang paling mahal saya pelajari.

Yang pasti alasan saya untuk tinggal di kota dan negara yang berbeda karena saya ingin menemukan kebenaran akan suatu hal. Misal, apakah benar orang luar negeri jahat-jahat? Apakah benar orang luar lebih pintar? Apakah benar mereka tidak menghargai muslim? Apakah benar tinggal disana lebih nyaman dan aman? Apakah benar disana pendidikannya lebih bagus? Apakah benar… dongeng-dongeng yang saya dengar itu nyata ataukah hanya sebuah mitos? Saya pasti akan selalu penasaran.

Udah ah nyinyirnya.

Terakhir, saya mau mengucapkan selamat buat salah satu sahabat terbaik saya, Dini, yang sudah selangkah lebih maju. Semoga surga menjadi lebih dekat dengannya ya. Amiin.