Sekolah Untuk Perempuan

Kalau sekolah ya jangan tinggi-tinggi, nanti susah cari jodohnya.
Sekolah jangan ambil yang susah-susah, nanti lama lulusnya.
Sekolah jangan lama-lama, nanti ketuaan, susah dapat jodoh.
Kerjanya jangan yang terlalu tinggi pangkatnya, nanti susah dapat jodoh.
Dst ga abis-abis kayak sinetron.

Sampai saya mikir, mending saya ga usah sekolah umum dari awal. Mending ikut sekolah pra-nikah langsung aja kalau patokannya ke jodoh. Beres dah ga dikomenin lagi.

Tapi untungnya saya ga ngikutin pikiran bego itu. Dan alhamdulillah, takdir hidup saya pun ternyata semakin baik (menurut saya). Karena apa yang saya lakukan hari ini, manfaatnya adalah untuk saya sendiri, bukan siapapun.

Dan saya masih ga paham, apa hubungan sekolah, jodoh, dan menikah? It’s super funny suggestions. Crappy. Can someone tell me a good answer of them? Oke, anggaplah saya sekarang sok tau. Dan saya bener-bener dah ga ngerti lagi mesti nanggepin ntu saran gimana. Melongo saya kalau di 2017 masih ada yang nyebutin pernyataan begitu.

Baiklah akan saya coba paparkan, dari pandangan saya.

Mungkin masih ada di antara kalian yang orangtuanya pernah berkata seperti itu. Berarti kita senasib. Yang mau saya katakan adalah bila orang tua menyampaikan pernyataan tersebut, mereka tidak salah. Pertama, mereka udah hidup lebih lama dari anak-anaknya, dan pasti pengalaman hidup mereka lebih banyak. Teman-teman mereka pun juga ada demikian. Mungkin mereka sudah cukup banyak menerima cerita demikian. Kedua, mereka tidak salah karena lingkungan yang mereka lihat adanya seperti itu.

Tapi…

Durhaka kan kalau nentang orang tua. Dengarkan dan pikirkan (hukum pertama sebagai anak). Dengarkan dan terima, I think it’s not a wise respond. Saya ga menolak pandangan tersebut karena pun memang saya melihatnya. Namun, saya pun menolak pandangan tersebut karena saya pernah melihat hal baiknya (sekolah dan jodoh ga masalah), ada aja kok orang lancar-lancar aja. Kenapa sih banyak orang selalu melihat hal negative, kenapa semua orang lebih mengingat hal-hal yang jelek, kenapa susah sekali menemukan orang optimis?

Hey, optimislah kawan. Mari kita merencanakan hal yang baik-baik.

Waktu SMA, saya pernah mendengar nasihat berikut: “Perempuan yang baik, untuk laki-laki yang baik”. Sejak saat itu saya selalu menanamkannya dalam hati wqwq. Walaupun kenyataannya ga semua perempuan baik dapat laki-laki baik, ga semua perempuan baik nikahnya adem-adem, ada juga cerainya. Balik lagi itu udah takdir kan. Baik tentu banyak definisinya. Dan bagi anak SMA pasti bingunglah baik itu seperti apa. Apa yang mapan, apa yang pendidikannya bagus, apa karirnya bagus. Dan, baik di mata manusia belum tentu baiklah di mata Allah.

Next level selanjutnya SMA yaitu kuliah. Saya pun menanamkannya dalam hati, kalau saya mau dapat jodoh yang mapan berarti dia karirnya bagus dong, berarti pendidikannya bagus dong, dan yang tempat kuliah bagus di Indonesia yaitu top 3 universitas ini, ITB, UI, UGM. Saya harus bisa masuk sana. Saya percaya lingkungan itu sangat menentukan. Dan saya harus masuk ke dalam lingkaran lingkungan tersebut. (Padahal sma biasa-biasa aja kagak anak olim dan punya prestasi-_-).

Yang saya yakini antara sekolah, karir, dan jodoh itu punya hubungan yaitu semuanya adalah takdir. Takdir yang membawa kalian ke lingkungan yang berbeda-beda, bisa jadi baik, bisa jadi buruk. Persiapkanlah diri kalian. Persiapkanlah niat kalian untuk hal-hal yang baik.

Manusia yang cerdas itu banyak kawan, optimislah kalian bakalan dapat jodoh yang cerdas, malah lebih cerdas dari kalian.

Menurut saya, pikiran kalianlah yang menentukan kalian seperti apa, dan tentunya usaha juga. Sugesti pikiran kalian dengan hal yang baik-baik. Tapi ingat ada namanya kegagalan, sesuatu yang semua orang tidak ingin harapkan, kalian harus menerima itu. Kalau kalian sugesti diri kalian ingin nikah abis lulus kuliah, nikah abis dapat karir yang bagus, nikah kalau begini begono, ya ga abis-abis ceritanya. Nikah ga ada hubungannya dengan semua itu karena nikah buat ibadah wqwq. Sok berpaham. Mungkin itu kali yang bikin banyak orang ga ketemu-ketemu jodohnya. Hidup kadang harus flexible dalam setiap kondisi yang berbeda-beda.

The big questions appeared. One day, my mom asked me “Ngapain sih kuliah di ITB, ngapain kuliah jauh-jauh, di pekanbaru juga ada kampus yang bagus, ngapain ambil teknik kan itu pekerjaan cowok, dst”. Saya responnya ya ga usah diambil pusing lah pertanyaan tersebut. Tapi terkadang pada hari-hari selanjutnya saya memikirkan jawabannya.

Saya mikir lagi, kok saya mau-maunya sih saya kuliah di tempat yang susah kata orang (padahal yang bilang begitu belum tau juga gimana). Kalau ngikutin dan terlalu percaya kata orang ya kalian ga maju-maju. Ga ada guna otak kalo ga dipake mikir.

Terus pertanyaan pamungkas pun keluar kalau saya bilang mau begini begitu, “Ga ada guna kuliah tinggi-tinggi, ngapain sih, kalau mati ga dibawa, ga ada yang tau umur, mending belajar ilmu agama nak”.  Oke, saya juga mau masuk surga.

Oke, I admit it. My heart is broken into little peaches. I want to be you’re a good daughter too, I want them to be proud of me. It’s one of my dream too since a long time ago. I want to get heaven too. But I still cannot understand their thinking yet. For some situations, they don’t give me enough reasons and I cannot accept it. Sorry I still cannot be a good daughter for you.

Ya, saya memang belum tau pasti ini ilmu dunia bakalan guna atau engga. Ini ilmu-ilmu yang saya pelajari sejak umur 6 tahun sampai saya umur 20 tahun bakal guna atau engga. Atau malah saya bakal mati duluan sebelum lulus kuliah. Emang ga ada yang tau. Hidup toh juga udah ada takdirnya. Ya takdir kalau saya lakukan A mungkin nantinya saya (bisa jadi) seperti ini. Kalau saya lakukan B nantinya seperti itu. Takdir juga tergantung pada seberapa besar energi yang kalian keluarkan, begitulah reaksi (hasil) yang akan kalian dapatkan.

Saya tidak menyesal sekolah kebanyakan ya walaupun kadang memang capek. Tapi saya ga tau juga kalau kerja bakalan lebih enak. Kata orang sih enak, tapi saya ga percaya, kecuali bagian dapat duitnya. Hidup itu sangat gambling. Ga ada yang tau pasti ujungnya gimana. Pusing sendiri kalau mikirin yang sudah-sudah. Maka itu saya pun nanamin dalam diri kalau lakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, termasuk untuk hal kecil yang menurut orang ga penting. Walau nanti ilmunya ga dipake (padahal udah berusaha cari yang sejalan), atau ada sesuatu kondisi yang menghalangi saya, saya insyallah ga sedih. Sekali lagi hidup harus flexible.

Akhir-akhir ini saya mulai mendapatkan jawaban, kenapa saya melakukan sesuatu dengan serius, atau ingin mendapatkan sesuatu yang terbaik. I would like have a high value, value of me, in high price. Ini jawabannya, memberikan harga yang pantas untuk diri saya. Saya ingin punya integritas yang baik. Saya ingin menjadi orang bernilai tinggi, setidaknya itu mimpi saya hari ini. Salah satu cara mendapatkannya ya melalui pendidikan yang baik, pengalaman yang baik. Setidaknya itu yang saya tau sekarang.

Saya percaya hidup 5, 10 atau 20 tahun ke depan bakalan lebih sulit, ga semudah cerita orang dulu tahun 80an dan 90an yang katanya smp aja udah bisa kerja di kantor. Kini, boro-boro bisa, yang lulusan kuliah aja malah mungkin lebih milih ngojek, lebih banyak duitnya. Persaingan dengan 250 juta rakyat dimana kaum mudanya banyak bahkan diprediksi beberapa tahun lagi Indonesia mendapatkan bonus demografi dimana persaingan makin sulit karena orang mudanya (usia produktif) mendominasi. Dengernya aja mungkin udah ciut duluan, bisa jadi makin banyak pengangguran. Makanya saya harus berusaha lebih.

Ga ada yang tau umur, kalau umur panjang, saya harus bisa mempersiapkan hidup saya 5, 10, 20 tahun ke depan dalam kondisi yang baik-baik saja. Misal punya duit yang cukup. Saya ga mau dong jadi orang yang banyak hutangnya, melarat, minta-minta sama orang, bahkan jadi pengemis. Supaya punya duit, saya harus punya penghasilan/kerja/melakukan sesuatu. Supaya orang percaya dengan saya, ya saya harus punya integritas yang baik. Simpelnya begitu. Menurut saya, ini juga merupakan usaha dalam menghadapi masa depan yang gambling. Doa aja kan ga cukup tanpa usaha.

Kalau umur pendek, ya berarti sudah takdir. Kalau saya ga persiapin apa-apa untuka akhirat ya bego berarti saya. Saya harus punya lingkungan yang baik dan bertemu orang-orang baik. Mimpi saya, keduanya bisa seimbang. Walaupun saya sadar ini memang sulit. Who knows? After a couple of days, maybe I’ll get the answer.

Semakin susah challenges nya semakin menarik.

Saya kuliah di teknik, yang menurut survey di luar negeri paling susah persaingan masuknya (ya walaupun ternyata ga semua jenis teknik gajinya gede). Dimana teknik sendiri di Indonesia lapangan kerjanya masih terbatas (kecuali buka usaha sendiri), banyak juga yang banting stir.

Saya lebih milih kuliah di bandung, jauh dari orang tua, tinggal nge kost, hidup sepi ga ada teman ngobrol (kadang), urus diri sendiri, di lingkungan asing (padahal anaknya introvert banget), dan banyak ga enak lainnya. Saya lebih memilih hal tersebut ketimbang kuliah di daerah asal dan bahkan sempat ditawarin dikasih mobil buat pergi kuliah (yang bagian ini saya ga yakin ini beneran atau engga, kayaknya emang wacana buat nahan-_-). Kalau ditanya lagi, ya mending saya milih hal ini, lebih mudah untuk saya jalani. Kalau ditanya mau, saya mau banget tinggal di rumah aja ga usah ngekost. Tapi balik lagi, saya bukan hidup buat hanya hari ini, tapi juga masa depan. Saya harus mempersiapkan kehidupan dan lingkungan yang lebih baik untuk saya tinggali. Bukan berarti sekarang ga baik. Namun sayangnya, kampus yang punya integritas yang baik di Indonesia ya kebanyakan di Pulau Jawa. Mau ga mau saya harus pindah.

Inilah hal yang menarik menurut saya, semakin sulit pilihannya semakin menarik. Semakin banyak benturan sana-sini dan pertentangannya juga semakin menarik. Semakin sulit, berarti saya harus berpikir extra supaya dapatin win-win solution, disini senang disana senang intinya. Dan yang pasti jangan jadiin duit patokan hidup, lakukan apa yang kalian senangi.

Finally, this is a very long writing. I’m proud of me because I speak up something in my mind. A long time ago, I’m really shy to speak up because I think it’s not proper action. People who talk many things is a bullshit guy! But if you don’t speak up, you’re like an abject guy! So pathetic! Speak up where ever is the media.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s