Berpikir kritis + Sedikit pengalaman SBMPTN

berpikir-kritisSaya sangat mengapresiasi setiap orang tua yang ada di muka bumi ini. Orang tua yang tak terhingga jasanya telah mendidik, membesarkan, merawat, membiayai, mengajarkan, membina, menyayangi dan menaseti anak-anaknya. Setiap orang tua adalah panutan pertama anak-anaknya. Dan anak ada tanggungjawab yang besar untuk orangtuanya.

Well, bersyukur lah kita yang dilahirkan di tahun 90-an atau yang sebelumnya. Dan lebih bersyukur lagi lah kalian adik-adikku yang lahir di generasi sekarang atau millenium. Setiap generasi punya momen-momennya sendiri dan pastinya momen ini berbeda-beda. Dan ini adalah beberapa opini saya tentang ‘pentingnya didikan orangtua’ yang mungkin kebanyakan mirip di generasi saya dulu ataupun masih ada yang sama dengan di masa sekarang.

Sedikit cerita, saya akhirnya sadar kalau ternyata tidaklah bijaksana jika menyalahkan cara orangtua dulu mendidik anaknya. Setiap tindakan seseorang pasti ada latarbelakangnya, sejarahnya. Begitu pula dengan orang tua kita. Banyak faktor seperti pengalaman masa lalu, pendidikan, lingkungan tinggal, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan masih banyak lagi. Itulah ‘tindakan menyalahkan’ atau memojokkan seseorang karena ‘persepsi orang itu salah’ atau menertawakan ‘tindakannya bodoh’ sangatlah tidak bijaksana. Setiap orang berhak punya persepsinya, caranya masing-masing.

Melatih anak untuk kritis

Saya baru tau kata ‘kritis’ itu ketika kuliah. Sangat disayangkan jika kalian adik-adikku yang lahir di generasi sekarang tidak mau bersikap kritis di masa sekarang. Jika kalian kepo mau tau bagaimana semua berita gosip orang, itu juga adalah kritis. Namun tidak tepat. Ya kritis itu adalah mau tau, mau mendengarkan, mau menganalisa, dan mau memahami tentu hal-hal yang positif. Kritis adalah ketika kalian melontarkan pertanyaan ‘kenapa’ dan ‘bagaimana’.

Yang saya rasakan adalah tidak banyak orang tua yang melatih anak-anaknya untuk melontarkan kata ‘kenapa bagaimana’. Atau pun menanyakan anaknya kembali dengan kata ‘kenapa bagaimana’. Ya mungkin waktu balita, apalagi yang baru pandai bicara, suka nanya-nanya ke orangtuanya yang lagi sibuk-sibuknya ngelakuin sesuatu. Ada yang senang ngejawab anaknya. Ada juga yang bosen karena anaknya ini terlalu banyak ngomong. Jadi begitulah fitrah manusia. Ternyata kebanyakan manusia itu sudah bawaannya menjadi manusia yang kritis sejak dia balita. Luar biasa.

Namun sikap bawaan ini lama-lama pudar dan menghilang karena lingkungannya tidak mendukung. Padahal sikap ini sangat penting untuk kemandirian anak itu sendiri, sikap mau belajar pada anak-anak. Artinya anak tersebut mau tau kemudian mau mencari lalu mau membaca dan akhirnya dia mau memahami. Memahami apapun lebih baik. Memahami  lingkungannya. Memahami keluarganya. Memahami banyak hal disekitarnya.

Rasa penasaran itu penting dimiliki oleh semua orang.

Sedikit cerita lagi, saya tidak terlatih untuk melontarkan kata ‘kenapa bagaimana’. Ini kata-kata yang masih sangat jarang terpikirkan. Dan bahkan sekarang pun masih jarang saya lontarkan. Lebih karena saya tidak pede karena akan dikira sok mau tau, ataupun terlihat sok tau. Ya tentu ini tidak baik

—-Cerita dibawah hanyalah sebuah contoh konflik saya. Jika kalian ingin langsung kebagian inti silahkan langsung ke bagian ‘hubungan berpikir kritis dan SBMPTN’—-

Konflik pikiran pertama – Saat SBMPTN

Konflik pertama yang bener-bener saya hadapi adalah ketika sma kelas 3. Ketika memilih jurusan untuk kuliah dan kampusnya. Ketika keinginan orang tua dan anaknya kebanyakan bertentangan. Wajar sih emang banyak yang merasa salah jurusan. Wajar mereka kurang banyak tau sebelum memilih jurusan. Ga ada informasi yang benar-benar 100% benar sebelum kamu mengalaminya sendiri. Namun, jika si anak itu kritis tentu dia bisa mendapatkan seminimal-minimalnya 10% lah informasi yang dibutuhkan sebagai awal start. Dia punya alasan yang kuat atas pilihannya sendiri dan tentu rasa kecewa akan ‘salah jurusan’ mungkin bisa dihindari. Tidak hanya berdasarkan ngikut saran orang tua, ngikutin teman, atau pun ngikutin trend dan info yang hanya dari mulut ke mulut.

Saya punya alasan untuk memilih ITB. Dan dulu alasan saya hanyalah karena saya ga dibolehin kuliah selain di jawa barat (which is yang saya tau ptn nya cuma ui ipb itb unpad dimana ini adalah ptn-ptn top) dan di riau. Dan saya pun masih tidak tau kenapa orang tua saya tidak terlalu menyarankan (memaksa) kuliah untuk di sumatera bagian lainnya. Hmmm. Untuk alasan memilih fakultasnya pun jujur karena awalnya teman saya 2 orang ada yang milih itu. Kemudian taulah saya yang namanya jurusan sipil. ‘Yang katanya banyak fisika dan matematikanya, ada ngegambarnya’. Tergiurlah saya dengan pikiran wah saya banget ini. Kebetulan fisika matematika adalah pelajaran yang lebih mudah saya pahami. Bukan berarti disukai apalagi expert ya. Ditambah lagi dengan alasan kuota ftsl yang banyak dibanding fakultas lainnya yaitu 200an. Sedikit punya harapanlah saya dengan hal ini walaupun peminatnya 3000-5000an per fakultas. Saya cukup pede dibanding saya pilih jurusan yang kuotanya cuma 20-40an dan peminatnya sekitar 500-1000an. Ditambah dengan info dari teman saya juga yang mengatakan jurusan x sangat sulit. Dia pun sampai-sampai membeli ulang lagi formulir SBMPTN. Dan saya pun kemudian menjadi takut dan mengganti pilihan. Saya benar-benar takut gagal. Dan dengan penyebab ketidakpedean inilah saya akhirnya tidak memilih UI sama sekali di pilihan SBMPTN. I still regret about that until now. I regret with my self in the past. And sometimes I still cry about my act.

Alhasil saya pilih ITB di pilihan pertama dan kampus di bogor di pilihan lainnya. Dengan masih menyimpan harapan saya bisa masuk UI di jurusan x melalui jalur SIMAK. Which is jalur simak ini ternyata lebih sulit. Tapi kalau saya ga milih ITB pas SBMPTN saat itu saya mungkin tidak punya peluang untuk masuk itb karena jalurnya saat itu cuma dua, dan terakhir hanyalah selalui sbmptn. Dan mungkin saya menyesal juga karena penasaran tidak mencoba pilih itb.

Mungkin saat itu yang saya butuhkan adalah kata-kata semangat dari orangtua saya, teman-teman. Tapi saya memang tidak terlalu terbuka untuk menceritakan sesuatu ke teman. Orang tua saya sebenarnya telah memberikan semangat kepada saya namun entah kenapa tidak mengokohkan hati saya. Info-info yang entah benar entah engga tentang sebuah jurusan juga turut mempengaruhi. Pilihan saya sangat terbatas kala itu. “Kalau saya ga masuk itb atau ui, saya ga akan punya kesempatan lagi untuk kuliah di luar daerah saya saat itu” itu pikiran saya. Coba jalur mandiri? Saya tidak ikut um ugm karena saya beranggapan toh bakal tidak dibolehin juga kuliah di jogja karena dari awal sudah disampaikan tidak boleh. Ujian mandiri pun tidak karena memang saat itu pengumuman UMnya kan baru keluar setelah hasil SBMPTN. Mungkin lain cerita kalo saya punya beberapa pilihan untuk mengikuti ujian mandiri. Kalo saya bisa melihat ada keberanian untuk mengulang tahun depan, jika saya benar-benar ingin mengambil jurusan tsb. Mungkin bisa sedikit pede untuk memilih jurusan x di UI tersebut. Mungkin ya bisa jadi.

Hubungan berpikir kritis dan SBMPTN

Saya pun menyadari bahwa kala itu saya benar-benar kurang berpikir kritis. Kurang berpikir mendalam. Dan pasti banyak orang di masa-masa umur belasan dan saat milih jurusan pasti bingung berlarut-larut. Tapi ada juga loh orang yang sudah bisa berpikir kritis karena dilatih. Ya saya yakin berpikir kritis itu bisa dilatih, apalagi jika sejak kecil. Maka ini akan memudahkan seseorang untuk memecahkan masalah dengan kemampuannya yang terlatih melihat dari berbagai sisi. ‘Masalah pilih jurusan’ mungkin bisa dia tangani lebih baik lagi karena dia punya pemikirannya sendiri yang benar-benar dia percayai. Alasan. Keinginan. Tekad.

Itu baru satu contoh dalam hal SBMPTN dan masih banyak lainnya.

Menurut saya ada beberapa manfaat dengan berpikir kritis:

  1. Percaya diri. Yakinlah kalian akan tidak mudah mempercayai info-info yang didapat. Kalian akan punya keinginan untuk mencari taunya lebih dalam di tempat dan ke orang yang tepat, yang pastinya orang yang telah punya pengalaman disana. Dan akhirnya kalian tetap pd walaupun banyak orang yang menyangsikan pilihan kalian.
  2. Tekad kalian lebih kuat untuk meraih target. Balik lagi ke cerita di atas, tekad saya benar-benar lemah karena saya sendiri tidak punya alasan yang kuat menurut saya untuk memilih hal tersebut. Akhirnya pun saya mudah goyah.
  3. Ada kebanggaan tersendiri. Menurut saya beda senangnya mencapai suatu target memang karena itu awal mulanya tercetus dari diri kalian sendiri (kalian yang mencari sendiri), dibandingkan mencapai target yang tenyata itu bukan ide orisinal kalian.
  4. Tidak takut gagal. Wajar semua orang takut gagal. Tapi disaat-saat krisis yang seperti contoh pengalaman SBMPTN yang saya ceritakan, mungkin kalian akan bisa berpikir lebih baik, berpikir dari banyak sisi. Kalaupun pahit-pahitnya kalian gagal pada percobaan pertama, kalian akan cepat bangkit dan bisa melihat peluang lainnya dan berusaha lebih giat lagi .
  5. Bersyukur akan hidup kalian hari ini. Yang berlalu biar lah berlalu. Di kondisi yang kalian tidak harapkan pun, kalian mungkin akan bisa berpikir untuk melihat positifnya. Tidak terus menerus mengungkitnya dan malah hanya akan membuat kalian menjalani hidup kalian biasa-biasa aja. Ya biasa aja usahanya. Menurut saya, dengan bersyukur akan lebih cepat mengobati perasaan sedih karena gagal serta akan membuat kalian sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, apapun itu.

Intinya berpikir kritis itu adalah sebuah sikap, cara, metode, kebiasaan yang akan memudahkan kalian melihat, memecahkan, menyelesaikan persoalan dalam hidup ini.

Terakhir, ini adalah sebuah opini yang kebenarannya harus kalian cari tau lagi melalui pengalaman kalian sendiri. Tetap semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s