(Ladang) memberi di sekitar kampus

Saya sedang berpikir hari ini, kenapa orang miskin selalu ada, orang mengaku miskin selalu ada, kenapa orang minta-minta selalu ada, kenapa penipu banyak sekali, kenapa banyak sekali pengamen dari yang bocah, bencong, sampai yang tua. Tiap hari. Di tempat yang sama. Apakah itu mata pencaharian mereka? Saya bingung kadang.

Kampus sepertinya memang lokasi strategis. Dimana banyak manusia tiap harinya. Dimana banyak yang makan, banyak yang polos, banyak yang ingin beramal. Tapi orang-orang seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama yang membuat orang di sekitar mereka menjadi tidak peduli.

Selama hampir 4 tahun saya kuliah, dari pengamatan ala kadarnya, beberapa pemandangan yang saya tangkap di sekitaran kampus ITB:
1. Ibu tua yang duduk di bangku jalan area teduh dekat gerbang sr. Tapi sekarang udah jarang keliatan. Ini ibunya ga ngomong apa-apa, duduk aja menanti ada yang ngasih.
2. Ibu tua (kayaknya) yang sekitaran masjid salman. Udah jarang keliatan.
3. Ada bapak tua tunanetra yang duduk dekat gerbang depan. Ini keterlaluan memang kalau ada anak atau kerabat yang sengaja nyuruh bapak ini duduk depan kampus nungguin ada yang ngasih. Jadi keinget waktu saya smp, ada yang sengaja juga ninggalan orang tua tunanetra di depan smp loh itu.
4. Anak kecil jualan tisu sama vitamin C pake wajah memelas dan agak maksa. Ini udah selama saya kuliah liat terus orangnya sama.

Yang saya ragu ini beneran atau ada bohongnya:
1. Yang jualan kupon voucher tapi katanya ada sebagian buat sumbangan buat penderita lupus, kanker, dsb. Harga kuponnya 100rb ada macam2 diskon dalamnya.
2. Yang minta sumbangan buat pembangunan masjid, anak yatim, panti jompo. Bawa kertas agak aneh isinya dan udah lama banget, tulisan yang jelas dikertasnya cuma tanggalnya doang.
Ciri2nya: banyak ngomong dan ga memberikan kesempatan buat nanya 😂, banyak muji-muji, cerita panjang lebar, patut dicurigakan.
Ngomongnya sih jago, coba kerjaan jualan pasti laku dagangannya.
Yang seperti ini saya agak ngeri, bisa double bebannya, berbohong dan ga amanah lagi, wallahualam.
3. dan berbagai metode penipuan lainnya, mulai dari nelpon ortu, nyerakin dokumen di jalan, sms/nelpon atas nama rektorat/kampus, hipnotis, dsb.
4. Penipuan di baltos katanya mau ngasih hadiah
5. Jual sesuatu barang buat pengobatan istri. Setelah dipikir2 ini agak aneh. Istrinya dirawat agak jauh tapi ngejualnya di sekitaran kosan. Kenapa ga jual ke rumah penduduk padahal pintunya ke buka? Kenapa jual ke mahasiswa? Bukannya ada bpjs ya? Semoga bapaknya jujur…

Yang jualan:
1. Ada ibu tua yang jualan makanan ringan. Udah jarang liat.
2. Ada bapak penjual amplop. Tapi ini seringnya liat di hari jumat. Bapaknya udah meninggal.
3. Bapak penjual keset kaki di deket tangga penyebrangan bip.
*Ibu dan bapak yang sudah lanjut usia masih tetap bekerja mencari nafkah yang halal…yang ini luar biasa, gapapa.

So, bagaimana kampus yang lain?
Kalau mau memberi ya sepertinya harus hati-hati. Apalagi sekitaran kampus. Apakah dengan kita memberi akan membuat mereka malah semakin betah untuk bermalas-malasan dan hanya mengandalkan meminta-minta bahkan berbohong? Wallahualam. Kalau ragu, walaupun berat, berdiam lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s