8 alasan kenapa jangan masuk teknik lingkungan

Udah provokatif belum judulnya? hehehe. Walaupun saya sebagai anak teknik lingkungan, saya tidak ingin memberikan harapan palsu kepada adik-adik yang ingin masuk jurusan ini. Yang katanya beginilah begitulah. Nah simak beberapa alasan dibawah ini dan renungilah, kamu udah yakin belum bakal sabar menjalaninya selama 4 tahun.

Disclaimer: Hal ini saya tulis berdasarkan renungan sendiri tanpa survei apalagi riset.Di beberapa kampus, lingkup teknik lingkungan yang dipelajari berbeda-beda jadi jangan telan bulet-bulet apa yang saya tulis disini.

1. Teknik tapi ga teknik teknik amat
Jangan bayangkan anak TL punya maket secantik anak jurusan arsi, atau alat secanggih robot anak jurusan elektro, ngerancang mesin kayak jurusan mesin (pastinyalah ya) atau bakalan kerja dengan mesin-mesin dan alat gede kayak jurusan industri, pertambangan, minyak, metalurgi dan serumpunnya. Karena sebenarnya yang akan kita rancang adalah
Sewerage atau sistem pipa air limbah perkotaan (di Indonesia, dikit kotanya yang pake sistem pengumpulan air limbah terpusat)
Drainage atau gorong-gorong. Ya gorong-gorong yang sering meluap itu.
– Instalasi air minum industri atau skala kota (nah yang ini sih biasanya udah langsung beli paketan dari perusahaan, jadi mungkin jarang juga desain sendiri dipake. Yang pasti lebih paham proses-prosesnya)
– Instalasi air limbah industri atau kota (kayaknya masih banyak kota di Indonesia yang ga punya IPAL)
– Plambing gedung lantai lebih dari satu. Nah bikin pipa air bersih dan air limbah gedung bertingkat ternyata ada ilmunya, ga asal bikin.
Landfill atau lahan urug. Di berita tv yang sering munculin bantar gebang pasti sering tu liat sampah se tinggi gunung dan ga cuma satu gunungnya. Nah ternyata bikinnya harus ada ilmu juga (seharusnya tapi fakta berkata lain)
– Desain TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dan TPS (Tempat Pengumpulan Sementara). Masih banyak orang ga ngerti beda kedua tempat tersebut. Tapi ya intinya ada sampah disana.
– Masih ada yang lain sih, tapi lupa.

Gimana menarik bukan yang kita rancang? Dan masih banyak persoalan-persoalan mengenai hal tersebut dan di Indonesia sendiri hal yang berbau-bau lingkungan seperti itu masih belum jadi prioritas pemerintah. Dan sebagai anak TL kita cuma bisa bersabar karena kita tau hal-hal tersebut banyak kurangnya tapi ya mau gimana lagi.

2. Lahan kerjanya sering diambil jurusan lain
TL itu Lebar tapi Tipis (ilmunya). Idealnya harus banyak taunya tapi kenyataannya banyak ga tau expertnya dimana. Nih misal desain sewerage dan drainase, lebih banyak dikasih ke anak jurusan sipil buat ngerjainnya, IPAM IPAL dikerjain anak jurusan teknik kimia, plambing dikerjain anak jurusan mesin, landfill TPA TPS kayaknya masih ga terlalu diperhatiin.*ngelus dada*

Ya mestinya kan ngerjainnya bareng-bareng anak TL juga karena tentu beda cara pikirnya dan desain yang dihasilkan. Nah jadinya banyak juga jurusan TL yang kerja di pemerintahan kayak PU, BLH, KLHK yang pastinya ngurusin regulasi lingkungan. Jadi ya ga semua lulusannya kerja teknik-teknik amat.

3. Nyambung kuliah lagi
Ini supaya bisa jadi konsultan karena S1 tidak cukup ilmunya masih dangkal. Ini ga harus sih, tapi baca poin nomor 2 kebayang dong lulusan TLnya harus saingan lebih keras dan punya nilai lebih (?)

4. Bikin laporan harus tebal
Ini ga tau turunan dari mana. Walaupun ada istilah tipis tapi yang pasti laporan anak TL tebal-tebal. Cek aja TAnya setebal apa sampai ada yang setebal bantal. Cocok untuk kamu yang mau uji daya tahan tangan dalam menulis karena laporan praktikum ada tulis tangan. Wahahaha. Tulis tangan+laporan tebal=luar biasa.

5. Terlalu banyak cewenya
Mungkin cewe-cewe ini merasa terjebak di jurusan ini setelah baca poin nomor 1 atau ternyata harapannya ada di poin nomor 2? Ga tau ah kenapa jurusan ini di beberapa univ terlalu banyak ceweknya. Yang pasti agak bosenin banyak cewek.

6. Ga semua mahasiswa teknik lingkungan cinta lingkungan
Jangan bayangkan kalau anak jurusan ini rajin tanem pohon, tanem bunga, senang berkebun dan serumpunnya atau buang sampah ditempatnya. Kita ga ngurusin hal begituan. Jadi buat kamu yang pengen berada di lingkungan orang-orang yang aktivis lingkungan, cinta tumbuhan, satwa, alam, dan sebagainya, mending ikut komunitas aja.

7. Sering ngomongin tinja dan sampah
Ada belajar desain septic tank yang sehat. Dulu taunya bentuk septic tank bulat doang ternyata banyak jenisnnya. Nah tenyata tinja ini bahaya bisa nularin penyakit kalau dibuang sembarangan. Bisa nyemarin air sumur, sungai, tanah, dan udara. Sampah juga demikian. Nah kebayang dong kalau lahan rumah sekarang kecil-kecil, eh taunya tetangga bikin septic tank rumah nya sebelah sumur kita atau kita bikin sumur sebelah septic tank tetangga. Silahkan dipikirkan sendiri. Ini salah satu alasannya juga kenapa sistem pengumpulan air limbah terpusat penting untuk kawasan padat penduduk.

Jadi buat yang ga suka dengerinnya mending mikir-mikir lagi.

8. Identik dengan warna hijau
Buat yang ga suka warna hijau, sabar-sabar aja. Karena kebanyakan atribut bakalan dibikin warna hijau hahahah. Tapi hijau bagus kok, warna kesukaan nabi juga.

Panjang juga ya tulisan ini. Akhir kata, walaupun sedikit nyeleneh dan sok tau, semoga readers sekalian semakin tercerdaskan dengan tulisan ini. Amiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s