Apakah mengkritik itu bagus?

Habis liat-liat facebook dan nemulah foto-foto jadul zaman smp. Aaaah… time fly very fast~ dan sekarang udah masa-masanya pada lulus kuliah. Ga nyangka akhirnya masa ini datang juga… ga tau harus sedih atau senang. Tapi jujur saya sedih.

Kembali ke masa smp. Jika readers melihat foto yang ada sayanya di foto yang teman saya unggah (di akun saya tidak ada karena sudah dinonaktifkan hahaha). Yakinlah sebagian foto tersebut akan terlihat saya dalam wujud… penampakan. Ya penampakan! foto paling belakang, kucel, itam, dan yang nongol kepalanya doang. Atau ga, agak berada di depan fotonya keliatan badan tapi ketutupan sama orang jadi ya nongol tetap kepalanya doang. Hahaha lucu ga sih?! *dalam hati menangis, sedih amat nasib saya*.
Lucu untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang.

Back to judul


Ada yang bilang kritik itu bagus. Kritik itu sah-sah aja. Kritik itu baik. Tapi bagi saya kritik itu… tidak sopan. -Disclaimer: kritik disini yang saya maksud bukan tentang politik, inflasi ekonomi, organisasi, acara ataupun hal-hal berat lainnya.- Tapi kritik yang mengarahkan ke personal orangnya entah itu sifat, fisik, watak, cara jalan, cara ngomong, raut muka. Kenapa sih susah amat buat nahan mulut ga ngomongin orang. Toh kalo ngomong ga ada faedahnya buat diri sendiri kan.

Okelah kalau kelepasan ngomong karena udah kebiasaan. Satu atau dua kali masih ditolerir.

Katanya kritik itu buat kebaikan. Entahlah mungkin iya dan tidak..
Kalau dalam islam (pernah baca dimana lupa), mengkritik orang itu ga boleh didepan umum atau sampai orang yang dikritiknya itu jadi malu depan orang banyak. Jadi menyampaikannya secara personal. Nah ini saya setuju. Tapi di zaman sekarang orang dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata kasar atau yang menyinggung orang, entah di media sosial (banyaknya disini), ngomong secara langsung, ngomong di forum, atau dimanapun di muka bumi ini. Entah disengaja ataupun tidak. Semoga tidak disengaja. Tapi itu nunjukin udah terdegradasinya nilai-nilai sosial di masyarakat, sikap kehati-hatian bermasyarakat sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu sering berteman dengan layar.
Dari sekian banyak tipe manusia, ga ada yang tau isi hatinya. Maka berhati-hatilah..

Saya lebih memilih diam, dicap pendiam sepertinya lebih baik.

Ohiya, menurut saya ini lucu setelah dipikir-pikir. Sepengalaman saya di organisasi (walaupun ga pernah dapat peran penting), lucu aja milih pemimpin dari kepribadian orangnya. SWOT okelah tidak masalah. Nah bagian musyawarahnya ini yang lucu. Pemikiran untuk menyetir orang-orang dengan meliat keseharian si calon (sifat, sikap, fisik) tersebut yang lucu. Karena saya yakin bahwa kalo maju dengan keinginannya sendiri, dia akan berusaha untuk menempatkan dan memperbaiki dirinya menjadi lebih baik. ‘Menyetirnya’ itu yang jahat.

Harus tetap dihargai.
Dan lebih salut lagi kepada orang-orang yang bisa konsisten menjaga niatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s